Kamis, 27 September 2012

BENJOLAN DI LEHER


SKENARIO 1
Nn.L 45 tahun, mengalami sesak nafas, dyspnea, sulit menelan, leher bertambah besar, suara parau.Nn. L sering mengeluh merasa cepat lelah dan nafsu makan menurun, cepat marah.Paa saat perawat melaksanakan pemeriksaan fisik terdapat atropi otot, BB turun, tremor halus pada tangan, mata melotot, kedipan berkurang.
Kata Kunci
1.      Identitas:
·         Jenis kelamin perempuan
·         Umur 45 tahun
Data subjektif
·         Cepat lelah
·         Nafsu makan turun
·         Cepat marah
2.      Data objektif
·         Sesak nafas
·         Dyspnea
·         Sulit menelan
·         Leher bertambah besar
·         Suara parau
Pemeriksaan Fisik:
§  Atropi otot
§  BB turun
§  Tremor halus pada tangan
§  Mata melotot
§  Kedipan berkurang



Analisa Data
Data
Masalah
Data Objektif:  Sesak Nafas
Dyspnea
Data Subjektif: -
Ketidaknyamanan
Data Objektif: Sulit Menelan

Data Subjektif: Berat Badan Menurun
Ketidakseimbangan Nutrisi
Data Objektif:-
Data Subjektif: Tremor Halus Pada Tangan
Resiko Cedera
Data Objektif:Atropi Otot
Data Subjektif: Cepat Lelah
                     Cepat Marah
Intolerensi Aktivitas : Keletihan
Data Objektif:Leher Bertambah Besar
                          Suara Parau
Data Subjektif:-
Gangguan Konsep Diri
Data Objektif:Mata Melotot
                          Kedipan Berkurang
Data Subjektif: -


Resiko kerusakan integritas jaringan


Topik Tree
Hipertiroidisme
(Tirotoksikosis)
 

Asupan Hormon Tiroid
 

Kadar Tiroksin

Hiperplasia Kelenjar Tiroid
   Suara Parau
Pembesaran Tiroid                      Gangguan Konsep Diri                                                                                    

Hipermetabolisme & Aktivitas Simpatis


                                          Tiroida                                         Ekstratiroidal
                                                                                                                
                                          Tonus Otot                      
                                          Protein
                                           Energi
                                           Cepat Lelah
Pertanyaan Penting
1.      Jelaskan anatomi, fisiologi, histologi, dan histofisiologi yang berhubungan dengan benjolan di leher?
2.      Bagaimana pemeriksaan fisik, diagnostic, dan laboratorium pada benjolan di leher?
3.      Jelaskan dan sebutkan penyakit yang berhubungan dengan gejala benjolan di leher dan penanganannya?
4.      Askep pada penyakit yang berhubungan dengan benjolan di leher?

Jawaban penting
1.      ANATOMI, HISTOLOGY DAN HISTOFISIOLOGI KELENJAR YANG BERHUBUNGAN DENGAN BENJOLAN DI LEHER

Adapun kelenjar yang berhubungan dengan adanya benjolan di leher adalah kelenjar tiroid dan kelenjar hipofisis. Berikut anantomi, histology, serta histofisiologi masing masing kelenjar adalah sebagai berikut:
A. Kelenjar Hipofisis
1. Anatomi
Kelenjar hipofisis ini berbentuk Ovoid/kacang dengan ukuran 12 x 8 mm dan berat 500 mg yang terletak di sela tursika, rongga tulang basis otak, dan dihubungkan dengan hipotalamus oleh tungkai hipofisis atau hipofisial. Dikelilingi pembuluh darah CIRCULUS WILLISI, Dibelakang bawah CHIASMA OPTICUM. Kelenjar ini terletak pada dasar otak besar dan menghasilkan bermacam- macam hormonyang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu kelenjar hipofisis disebut master gland( kelenjar induk / kelenjar ibu).

Kelenjar hipofisis dibagi menjadi:
a. HipofisisAnterior(Adenohipofisis)
Hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior berperan utama dalam pengaturan fungsi metabolisme di seluruh tubuh. Hormon-hormonnya yaitu:
1) Hormon Pertumbuhan
Meningkatkan pertumbuhan seluruh tubuh dengan cara mempengaruhi pembentuka protein, pembelahan sel, dan deferensiasi sel.
2) Adrenokortikotropin (Kortikotropin)
Mengatur sekresi beberapa hormon adrenokortikal, yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolism glukosa, protein dan lemak.
3) Hormon perangsang Tiroid (Tirotropin)
Mengatur kecepatan sekresi tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar tiroid, dan selanjutnya mengatur kecepatan sebagian besar reaksi kimia diseluruh tubuh.
4) Prolaktin
Meningkatkan pertunbuhan kelenjar payudara dan produksi air susu.
5) Hormon Perangsang Folikel dan Hormon Lutein
Mengatur pertumbuhan gonad sesuai dengan aktivitas reproduksinya.
b. Hipofisis Posterior (Neurohipofisis)
Ada 2 jenis hormon:
1) Hormon Antideuretik (disebit juga vasopressin
Mengatur kecepatan ekskresi air ke dalam urin dan dengan cara ini akan membantu mengatur konsentrasi air dalam cairan tubuh.
2) Oksitosin
Membantu menyalurkan air susu dari kelenjar payudara ke putting susu selama pengisapan dan mungkin membantu melahirkan bayi pada saat akhir masa kehamilan

c. Pars Intermedia
Daerah kecil diantara hipofisis anterior dan posterior yang relative avaskular, yang pada manusia hamper tidak ada sedangkan pada bebrapa jenis binatang rendah ukurannya jauh lebih besar dan lebih berfungsi.
Pembuluh darah yang menghubungkan hipotalamus dengan sel- sel kelenjar hipofisis anterior.Pembuluh darah ini berkhir sebagai kapiler pada kedua ujungnya, dan makanya disebut system portal.dalam hal ini system yang menghubungkan hipotalamus dengan kelenjar hipofisis disebut juga system portal hipotalamus – hipofisis.System portal merupakan saluran vascular yang penting karena memungkinkan pergerakan hormone pelepasan dari hypothalamus ke kelenjar hipofisis.sehingga memungkinkan hypothalamus mengatur fungsi hipofisis. Rangsangan yang berasal dari tak mengaktifkan neuron dalam nucleus hypothalamus yang menyintesis dan menyekresi protein degan berat molekul yang rendah.Protein atau neuro hormone ini dikenal sebagai hormone pelepas dan penghambat.Hormon –hormon ini dilepaska kedalam pembuluh darah system portal dan akhirnya mencapai sel – sel dalam kelenjar hipofisis. Dalam rangkaian kejadian tersebut hormon- hormon yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis diangkt bersama darah dan merangsang kelenjar-kelenjar lain ,menyebabkan pelepasan hormon – hormon kelenjar sasaran. A Akhirnya hormon – hormon kelenjar sasaran bekerja pada hipothalamus dan sel – sel hipofisis yang memodifikasi sekresi hormone.

2. Histology
Embriologi adenohypofise & neurohypofise berbeda. Adenohypofise berkembang dari kantong rathke yaitu divertikulum ektodermal yang menonjol dari atap stomadeum (atap bakal rongga mulut). Sedangkan neurohypofise berkembang dari divertikel neuroektoderal menonjol dari diensefalon membentuk infundibulum, kedua divertikel ini dengan cepat berhubungan satu dengan lainnya dan hubungan kantong rathke dengan atap bakal rongga mulut hilang.Sebaliknya infundibulum tetap berhubungan dengan diencefalon dimana bagian atasnya membentuk tangkai neural dan bagian bawahnya inferior membentuk pars nervos mengandung sel-sel neuroepitethel yang akan mengalami proliferasi dengan hebat danberdffrensiasi menjadi sel pituisit. Dari diencefalon serat saraf berkembang dan berjalan turun ke bawah ke dalam tangkai neural dan masuk ke pars nervosa.
Bagian kantong rathke yg berhubungan dengan pars nervosa hy berkembang sedikit menjadi pars intermedia. Sedangkan dinding depan (anteroir) akan berkembang dengan cepat dan membentuk pars distalis,pars intermedia.Pada manusia pada perkembangannya banyak sel-sel akan bermigrasi ke pars distalis dan sebagian ke pars nervosa sehingga pada orang dewasa pars itermedia menyusut & hanya 2% dari hipofise.
Pars tuberalis berasal dari pertumbuhan jaringan dari pars distalis & mengelilingi tangkai neural pada sisi anteroir dan lateral. Sisa kantong dapat dilihat pada anak-anak berupa vesikel berisi koloid yg terdapat pada perbatasan antara adenohupofise dan neurohypofise.

3. Histofisiologi
a. Sel “neuroscretory’ pada Hipotalamus mensekresi “releasing dan inhibitory” hormon yang menstimuli atau menginhibisi aktifitas Hipofise anterior.
b. Sesuai dengan rangsangan dari releasing atau inhibitory hormon maka Hipofise akan mensekresi : GH, Prolactin, LH, FSH, TSH dan ACTH atau penghambat hormon tersebut diatas.
c. Nukleus supraoptik memproduksi ADH (Anti Diuretic Hormon ) dan selanjutnta disimpan dalam hipofise posterior.
d. Nukleus paraventrikuler memproduksi Oxitocin (vasopresin) dan selanjutnya disimpan dalam hipofise posterior

B. Kelenjar Tyroid
1. Anatomi
Kelenjar tyroid terletak dibagian bawah leher, antara fascia koli media dan fascia prevertebralis.Didalam ruang yang sama terletak trakhea, esofagus, pembuluh darah besar, dan syaraf. Kelenjar tyroid melekat pada trakhea sambil melingkarinya dua pertiga sampai tiga perempat lingkaran.Keempat kelenjar paratyroid umumnya terletak pada permukaan belakang kelenjar tyroid.Tyroid terdiri atas dua lobus, yang dihubungkan oleh istmus dan menutup cincin trakhea 2 dan 3.Kapsul fibrosa menggantungkan kelenjar ini pada fasia pretrakhea sehingga pada setiap gerakan menelan selalu diikuti dengan terangkatnya kelenjar kearah kranial.Sifat ini digunakan dalam klinik untuk menentukan apakah suatu bentukan di leher berhubungan dengan kelenjar tyroid atau tidak.

Vaskularisasi kelenjar tyroid berasal dari a. Tiroidea Superior (cabang dari a. Karotis Eksterna) dan a. Tyroidea Inferior (cabang a. Subklavia).Setiap folikel lymfoid diselubungi oleh jala-jala kapiler, dan jala-jala limfatik, sedangkan sistem venanya berasal dari pleksus perifolikular. Nodus Lymfatikus tyroid berhubungan secara bebas dengan pleksus trakhealis yang kemudian ke arah nodus prelaring yang tepat di atas istmus, dan ke nl. Pretrakhealis dan nl. Paratrakhealis, sebagian lagi bermuara ke nl. Brakhiosefalika dan ada yang langsung ke duktus thoraksikus. Hubungan ini penting untuk menduga penyebaran keganasan

2. Histology
Pada usia dewasa berat kelenjar ini kira-kira 20 gram. Secara mikroskopis terdiri atas banyak folikel yang berbentuk bundar dengan diameter antara 50-500 ยตm. Dinding folikel terdiri dari selapis sel epitel tunggal dengan puncak menghadap ke dalam lumen, sedangkan basisnya menghadap ke arah membran basalis. Folikel ini berkelompok sebanyak kira-kira 40 buah untuk membentuk lobulus yang mendapat vaskularisasi dari end entry. Setiap folikel berisi cairan pekat, koloid sebagian besar terdiri atas protein, khususnya protein tyroglobulin (BM 650.000).

3. Histofisiologi
a. Sekresi T4 (tiroxin,tetraiodotironin), T3 (triiodotironin) dan Calcitonin.
b. Terdiri atas lobus kanan dan kiri dipisahkan oleh istmus.
\
1.     
c. Pada beberapa orang ditemukan lobus piramidal (lobus tambahan), merupakan sisa dari Tiroid primordial yang tumbuh dari dasar lidah melalui jalan duktus Tiroglossus.

FISIOLOGI YANG BERHUBUNGAN DENGAN BENJOLAN DI LEHER

Kelenjar tyroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Kedua hormon ini merupakan asam amino dengan sifat unik yang mengandung molekul iodium yang terikat pada struktur asam amino.T4 mengandung empat atom iodium dalam setiap molekulnya,dan T3 hanya mengandung tiga atom saja.Kedua hormon ini disintesis dan disimpan dalam keadaan terikat dengan protein dalam keadaan terikat dengan protein di dalam sel-sel kelenjar tiroid;pelepasannya ke dalam aliran darah terjadi ketika diperlukan.Kurang lebih 75% hormon tiroid berada dalam keadaan terikat dengan globulin pengikat-protein (TBG;thyroid-binding globulin).Hormon tiroid yang lain berada dalam keadaan terikat dengan albumin dan prealbumin pengikat tiroid.
Iodium merupakan unsur esensial bagi tiroid untuk sintesis hormon tiroid.Pada kenyataannya,iodium dalam tubuh paling banyak digunakan oleh kelenjar tiroid,dan gangguan utama akibat defisiensi iodium adalah perubahan fungsi tiroid.Iodida dikonsumsi dari makanan dan diserap ke dalam darah di dalam traktus gastrointestinal.Kelenjar tiroid bekerja sangat efisien dalam mengambil iodium dari darah dan kemudian memekatkannya dalam sel-sel kelenjar tersebut.Di sana ion-ion iodida akan diubah menjadi molekul iodium yang akan bereaksi dengan tirosin (suatu asam amino) untuk membentuk hormon tiroid.
Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid (thyroid stimulating hormone,TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis.TSH akan mengendalikan kecepatan pelepasan hormon tiroid..Selanjutnya,pelepasan TSH ditentukan oleh kadar hormon tiroid dalam darah.Jika konsentrasi hormon tiroid dalam darah menurun,pelepasan TSH meningkat sehingga terjadi peningkatan keluaran T3 dan T4.Keadaan ini merupakan satu contoh pengendalian umpan-balik (feedback control).Hormon pelepas-tirotropin (TRH;thyrotropin-releasing hormone) yang disekresikan oleh hipotalamus memberikan pengaruh yang mengatur (modulasi) pelepasan TSH dari hipofisis.Faktor-faktor lingkungan seperti penurunan suhu tubuh dapat meningkatkan sekresi TRH dan dengan demikian menaikkan sekresi hormon tiroid.
Fungsi utama hormon tiroid (T4 dan T3) adalah mengendalikan aktifitas metabolik seluler.Kedua hormon ini bekerja sebagai alat pacu umum dengan mempercepat proses metabolisme.Efeknya pada kecepatan metabolisme sering ditimbulkan oleh peningkatan kadar enzim-enzim spesifik yang turut berpengaruh dalam konsumsi oksgen,dan oleh perubahan sifat responsif jaringan terhadap hormon yang lain.Hormon tiroid mempengaruhi replikasi sel dan sangat penting bagi perkembangan otak.Adanya hormon tiroid dalam jumlah yang adekuat juga diperlukan untuk pertumbuhan normal.Melalui efeknya yang luas terhadap metabolisme seluler,hormon tiroid mempengaruhi setiap sistem organ yang penting.
Kelenjar tiroid juga menghasilkan kalsitonin atau tirokalsitonin.Sekresi kalsitonin tidak dikendalikan oleh TSH.Hormon ini disekresikan oleh kelenjar tiroid sebagai respon terhadap kadar kalsium plasma yang tinggi,dan kalsitonin akan menurunkan kadar kalsium plasma dengan meningkatkan jumlah penumpukan kalsium dalam tulang.
Efek hormon tiroid pada pertumbuhan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak selama kehidupan janin. Bila janin tidak dapat mensekresi hormon tiroid dalam waktu yang cukup maka pertumbuhan dan pematangan otak sebelum dan sesudah bayi dilahirkan akan sangat terbelakang dan otak tetap berukuran kecil dari normal. Hormon tiroid meningkatkan laju metabolisme sebagian besar sel tubuh. Bila produksi hormon tiroid sangat meningkat maka hampir selalu menurunkan berat adan. Dan bila produksinya menurun hampir selalu meningkatkan nafsu makan. Keadaan ini dapat melebihi keseimbangan perubahan kecepatan metabolism
Efek pada sistem kardiovaskuler hormon tiroid akan meningkatkan aliran darah dan curah jantung, frekuensi denyut jantung, kekuatan denyut jantung, volume darah, dan tekanan arteri. Efek pada respiratori. Meningkatnya kecepatan metablisme akan meningkatkan pemakaian oksigen dan pembentukan karbon dioksida. Ini akan mengaktifkan semua mekanisme yang meningkatkan kecepatan dan kedalaman pernapasan.
Efek pada saluran cerna, meningkatkan nafsu makan dan asupan makanan, karena hormon tiroid meningkatkan kecepatan sekresi getah pencernaan dan gerakan saluran cerna. Sering terjadi diare, kekurangan hormon tiroid dapat menimbulkan konstipasi.
Efek pada sistem syaraf pusat. Hormon tiroid meningkatkan kecepatan berfikir, tapi juga sering menimbulkan disosiasi pikiran, dan sebaliknya berkurang hormon tiroid akan menurunkan fungsi ini.
Efek terhadap fungsi otot. Peningkatan hormon tiroid dapat menyebabkan otot bereaksi dengan kuat, namun bila jumlah hormon ini berlebihan, maka otot-otot malahan menjadi lemah oleh karena berlebihnya katabolisme protein. Kekurangan hormon tiroid menyebabkan otot sangat lambat, tremor pada otot.
Efek pada tidur. Karena efek yang melelahkan dari hormon tiroid pada otot dan sistem syaraf pusat, maka penderita hipertiroid seringkali merasa capai terus menerus tetapi karena efek ekstasi dari hormon tiroid pada sinaps, timbul kesulitan tidur. Sebaliknya, somuolen yang berat merupakan gejala khas dari hipertiroidisme, disertai dengan waktu tidur yang berlangsung selama 12 jam sampai 14 jam sehari.
Efek hormon tiroid pada fungsi seksual. Pada pria, berkurangnya hormon tiroid menyebabkan hilangnya libido dan sebaliknya sangat berlebihannya hormon ini seringkali menyebabkan impotensi. Pada wanita, kekurangan hormon tiroid seringkali menyebabkan timbulnya menoragia dan polimenore.
2.      pemeriksaan fisik
1.      inspeksi:
·         identifikasi daerah anatomi spesifik diperlakukan untuk menjamin pengkajian yang akurat.
·         Daerah leher bagian bawah antara otot-otot sternokleomastoideus dinspeksi untuk melihat terdapatnya benjolan disebelah anterior atau tampak asimetris.
·         Pasien diminta untuk sedikit ekstensikan lehernya dan menelan. Normalnya jaringan tiroid akan bergerak naik jika pasien menelan.
2.      Palpasi
Untuk menentukan ukuran, bentuk konsisten, kesimetrisan dan adanya nyeri tekan. Caranya:
·         Palpasi kelenjar tiroid secara efektif dengan posisi pasien membelakangi pemeriksa dan pemeriksa melakukan prosedur ini dengan menggunakan kedua belah tangan melingkari leher pasien.
·         Ibu jari tangan diletakkan pada bagian posterior leher, jari telunjuk dan jari tengah melakukan palpasi untuk meraba istmus tiroid serta permukaan anterior lobus lateralis(daerah istmus akan terasa kenyal dengan konsistensi yang menyerupai gelang karet).
·         Lobus kiri diperiksa dengan menempatkan pasien dalam posisi leher sedikit fleksi ke depan dank e kiri. Kemudian kartilago tiroid didorong ke kiri dengan jari tangan kanan(gerakan ini akan menggeser lobus kiri, ke dalam muskulus sternokleidomasteideus sehingga mudah di palpasi).
3.      Auskultasi:
·         Dilakukan apabila pada saat di palpasi kelenjar tiroid ditemukan membesar. Caranya yaitu auskultasi kedua lobus dilakukan dengan corong membran stetoskop. Auskultasi akan mengenal vibrasi setempat yang terdengar seperti bruik.
*      Pemeriksaan Diagnostik
1)      Pemeriksaan darah yang mengukur kadar Ht(T3dan T4), TSH  dan TRH akan memastikan diagnostic, keadaan, dan lokalisasi masalah di tingkat SSP atau kelenjar tiroid.
·         Tes TSH (Tiroid Stimulating Hormone)
Untuk menegakkan diagnosis serta penatalaksanaan kelainan tiroid dan untuk membedakan kelainan yang disebabkan oleh penyakit pada kelenjar tiroid sendiri dengan kelainan yang disebabkan oleh penyakit pada hipofisis atau hipotalamus.
·         Radio immunoassai TSH, kadar TSH dalam serum dapat diukur dengan pemeriksaan radio immunnoassai.
·         T3 merupakan pemeriksaan mengukur secara tidak langsung kadar Tbg tidak jenuh. Tujuannya adalah untuk menentukan jumlah hormon tiroid yang terikat dengan Tbg dan jumlah tempat pengikatan yang ada.
Normalnya Tbg tidak sepenuhnya jenuh dengan hormon tiroid dan masih terdapat tempat-kosong untuk mengikat T3 berlabel radio iodium, yang ditambahkan dalam specimen darah pasien. Nilai ambilan T3sangat berguna untuk mengevaluasi kadar hormon tiroid pada pasien yang mendapatkan lodium dalam dosis diagnostik atau teurapetik.
·         T4, tes ini paling sering dilakukan adalah penentuan T4 serum dengan teknik radio imunnoassay atau peningkatan kompetitif. Kisaran T4 dalam serum yang normal berada diantara 4,5 dan 11,5. T4 terikat terutama dengan Tbg dan terutama pealbumin; T3 terikat lebih longgar, T4 normalnya terikat dengan protein. Setiap faktor yang mengubah protein pengikat ini juga akan mengubah kadar T4. Penyakit sistemik yang serius, obat-obatan(yaitu kontrasepsi oral, steroid, fenitoin, salisilat) dan penipisan protein sebagai akibat dari nefrosis serta penggunaan hormon androgen dapat mempengaruhi ketepatan hasil tes.
·         Ambilan iodium radio aktif, tes ini dilakukan untuk mengukur kecepatan ambialan iodium oleh kelenjar tiroid. Kepala pasien disuntikkan I131 atau radio nuklida lainnya dengan dosis tracer, dan pengukuran pada tiroid dilakukan dengan alat pencacah skintilasi yang akan mendeteksi serta menghitung sinar gamma yang dilepaskan dari hasil penguraian I131 dalam kelenjar tiroid. Tes ini mengukur proporsi dosis iodium radio aktif yang diberikan yang terdapat dalam kelenjar tiroid pada waktu tertentu sesuai pemberiaanya. Nilai normal berfariasi diantara kawasan geografik yang satu dengan yang lainnya dan menurut asupan iodium. Penderita hipertiroidisme akan mengalami menumpukan I131 dalam proporsi yang tinggi(mencapai 90% pada sebagian pasien),sedangakan penderita hipotiroidisme memperlihatkan ambilan yang sangat rendah.
*      Tes Laboratorium
Tes laboratorium berguna untuk mendeteksi dan menegakkan diagnosis kelainan tiroid atau faktor penyakit tiroid yaitu:
1.      Pemeriksaan tendon arsilles
2.      Kadar kolestrol serum
3.      Elektrokardiogram(EKG)
4.      Pemeriksaan enzim otot(alanin transaminase(ALT)) atau serum glutamic- pyruvic transaminase(SGPT), lactic-Acid, dehydroginase(LDH), dan Creatine Kinase(CK))
5.      Pemeriksaan USG, pemindai CT dan MRI dapat digunakan untuk menjelaskan atau memastikan masel pemeriksaan diagnostik yang lain.
3.      Penyakit yang berhubungan :
1.      Graves (penyakit kelenjar gondok)
Penyakit autoimun yang disebabkan oleh faktor genetic dan lingkungan.
2.      Goiter
Goiter adalah pembesaran pada kelenjar tiroid
-          Goiter konginital
-          Goiter endemit dan kretinisme
-          Goiter sporadic
Yang merupakan petunjuk penting untuk menegakkan diagnose digolongkan menjadi 3:
-          Goiter iodium
-          Goiter sederhana
-          Goiter multinodula
3.      Tiroditis
4.      Kanker tiroid
4.      a. Pengkajian
§ Aktifitas/istirahat
Gejala : insomnia, sensivitas meningkat, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat.
Tanda : atropi otot

§ Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri dada (angina)
Tanda : disritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan tekanan darah dengan takanan dada yang berat, takhikardi saat istirahat, sirkulasi kolap, syok (krisis tirotoksikosis).

§ Eliminasi
Gejala : urine dalam jumlah yang banyak, perubahan dalam faeces.

§ Integritas ego
Gejala : mengalami stress yang berat baik maupun fisik
Tanda : emosi labil (euphoria sedang sampai delirium), depresi.

§ Makanan/cairan
Gejala : kehilangsn berat badan mendadak, nafsu makan meningkat, makannya sering, kehausan, mual dan muntah.
Tanda : pembesaran tiroid, goiter, edema non pitting terutama daerah pretibial.

§ Neurosensori
Tanda : bicara cepat dan parau, gangguan status mental dan perilaku, seperti bingung, disorientasi, gelisa, peka rangsang, delirium, psikosis, stupor, koma, tremor halus pada tangan, tanpa tujuan, beberapa bagian tersentak-sentak, hiperaktif reflek tendon dalam (RTD).
Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri orbital/fothopobia

§ Pernafasan
Tanda : frekwensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, sumbatan jalan nafas, terjadi penekanan.


§ Keamanan
Gejala : tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, kebutuhan meningkat akan iodium (G), alergi etrhadap iodium (Hi).
Tanda : suhu meningkat 37,4 derajat celcius. Diaforesisi, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, exoftalmus: retraksi, iritasi padakonjungtiva dan berair. Puritus, lesi, eritema ( sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.

§ Seksualitas
Tanda : penurunan libido, hipomenorhea dan impotensi.

§ Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : adanya riwayat keluarga mengalami masalah itroid, riwayat hipotiroidisme, terapi hormon tiroid atau pengobatan antitiroid, dihentikan terhadap pengobatan antitiroid, dilakukan pembedahan tiroidektomi sebagian, riwayat pemberian insulin yang menyebabkan hipoglikemia, gangguan jantung atau pembedahan jantung, penyakit yang baru terjadi (pnemonia), trauma, periksaan rontgen fhoto dengan zat kontras.

b. Diagnosa keperawatan
1. Nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya pembesaran jaringan pada leher, penekanan trakhea.
2. Perubahan pola nutrisi berhubungan dengan adanya penekanan daerah oesofagus, penurunan nafsu makan.
3. Gangguan konsep diri (harga diri rendah) berhubungan dengan tidak efektifnya coping individu, adanya pembesaran pada leher.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.

c. Intervensi
Diagnosa 1
Rencana tindakan :
1. Pantau frekwensi pernafasan , kedalaman, dan kerja pernafasan
2. Auskultasi suara nafas, catat adanya perubahan suara patologis
3. Waspadakan klien agar leher tidak tertekuk/posisikan semi ekstensi atau eksensi pada saat beristirahat.
4. Ajari klien latiahan nafas dalam
5. Selidiki keluhan kesulitan menelan
6. Persiapkan operasi bila diperlukan.

Diagnosa 2
Rencana tindakan :
1. Kaji adanya kesulitan menelan, selera makan, kelemahan umum dan munculnya mual dan muntah.
2. Pantau masukan makanan setiap hari dan timbang berat bada setiap hari serta laporkan adnaya penurunan.
3. Dorong klien untuk makan dan meningkatkan jumlah makan dan juga beri makanan lunak, dengan menggunakan makanan tinggi kalori yang mudah dicerna.
4. Beri/tawarkan makanan kesukaan klien.
5. Kolaborasi : konsultasikan dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin.

Diagnosa 3
Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat perubahan rentang harga diri rendah
2. Pastikan tujuan tindakan yang kita lakukan adalah realistis
3. Sampaikan hal-hal yang positif secara mutlak untuk klien, tingkatkan pemahaman tentang penerimaan anda pada pasien sebagai seorang individu yang berharga.
4. Tentukan untuk perilaku manipulatif, identifikasi konsekensi untuk pelanggaran ini dengana cara yang berbelit-belit.
5. Diskusikan masa depan klien, bantu klien dalam menetapkan tujuan-tujuan jangka pendek dan panjang.


Diagnosa 4
Rencana tindakan :
1. Tinjau kembali proses penyakit dan harapan masa datang
2. Berikan informasi yang tepat dengan keadaan individu
3. Identifikasi sumber stress dan diskusikan faktor pencetus krisis tiroid yang terjadi, seperti orang/sosial, pekerjaan, infeksi, kehamilan
4. Berikan informasi tentang tanda dan gejala dari penyakit gondok serta penyebabnya
5. Diskusikan mengenai terapi obat-obatan termasuk juga ketaatan etrhadap pengobatan dan tujuan terapi serta efek samping obat etrsebut
6. Beri dukungan moril dapat menjalankan semua anjuran/informasi yang didapat baik oleh petugas kesehatan maupun keluarga.
5.       

. >SMS ke 087 886-018-206ketik "PESAN NOSE STRAP"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar